Suatu hari di akhir mei tahun 1919, tiga kota di provinsi jawa timur sedang dilanda bencana meletusnya gunung kelud yang paling mematikan hingga menelan korban lebih dari 5000 Jiwa dari kota kediri, malang, dan blitar. Kejadian ini menyisakan kerusakan pada lahan seluas hampir 15000 hektar. Diantara korban tersebut terdapat seorang petani miskin yang bernama bapak Dawud. Pak Dawud merupakan seorang petani yang tinggal di daerah lereng gunung kelud sebelah selatan, tepatnya di kecamatan Wlingi, kabupaten Blitar. Sehari-hari pak Dawud hidup bersama seorang istri dan ketiga anaknya yang bernama Tojo sebagai anak laki-laki tertua, Tukiman sebagai anak laki-laki ledua dan Fatimah sebagai adik perempuanya. Pada tanggal 18 bulan mei 1919, bapak Dawud berlari pontang panting menyelamatkan diri ketika sebuah letusan gunung kelud terjadi saat ia sedang berada di ladang yang ia kerjakan. Dengan tanpa menggunakan kendaraan apapun, ia berlari menuju rumahnya yang berada di lain desa.
Hingga sesampainya dirumah ia mendapati rumahnya telah tertutup abu tebal yang menimbulkan iritasi kulit dengan rasa panas yang membakar. Puluhan penduduk di desa tersebut panik dan kebingungan untuk menyelamatkan diri mereka dengan rasa bimbang akan tekanan penjajah (belanda) dan takut akan dampak ledakan gunung. Malam itu situasi terlihat sangat sepi dan mencekam, tidak seperti malam-malam sebelumnya dengan kelap-kelip lampu templek (cempluk) atau lampu piring (yg terbuat dari minyak kelapa dipiring yang diberi sumbu di pinggirnya). Di malam yang sama pula, pak Dawud masih berusaha mencari sisa keluarganya yang hilang diantara kerumunan pengungsi. Di malam itu pak Sudrajat hanya berhasil menemukan kedua anaknya yakni Tukiman dan Ningsih. Tanggal 19 mei tahun 1919 adalah hari dimana pak Dawud bertemu istrinya yang tak pernah terlihat kembali setelah itu.
Rasa putus asa karena kehilangan keluarga dan harta benda dirasakan oleh seluruh korban letusan gunung pada saat itu, ditambah lagi beban pajak yang wajibkan oleh pemerintah Belanda. Hal ini membuat pak Dawud berfikir "tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di tempat apes (terkutuk) ini". Akhirnya pak Dawud memutuskan untuk pindah tempat dengan mengajak kedua anaknya menjauhi gunung yang dianggapnya sebagai sumber malapetaka. Beberapa saudara pak dawud yang tinggal di daerah Blitar juga banyak yang mengungsi ke daerah lain bahkan ada yang merantau hingga keluar jawa. Dengan berbekal beberapa Kelip (tidak sampai 1 rupiah) perjalanan merantaupun dia lakukan dengan berjalan kaki dari Wlingi menuju stasiun kota lama Malang.
Dalam perjalanan tersebut seringkali di tengah jalan, Fatimah mengeluh dengan kakinya yang melepuh (buyut tidak memberi penjelasan tentang alasanya) sehingga pak Dawud harus menggendongnya, sedangkan Tukiman pada saat itu berumur sekitar 10 atau 11 tahun (Tojo tetap tinggal di Blitar, tanpa alasan yg jelas). Perjalanan yang sesungguhnya di mulai dari Stasiun kota Malang (kota lama). Perantauan pak Dawud dilakukan dengan mengindari daerah yang terkenal dengan kerja rodinya yakni anyer-panarukan, dalam artian pak Dawud tidak menginginkan merantau ke jateng/jabar. Sehingga beliau memilih Banyuwangi sebagai tujuanya. Banyuwangi dipilih karena saat itu dominasi Belanda di Banyuwangi lemah mengingat konsentrasi Belanda adalah Bali.
Dengan naik kereta api (Sepur krucuk) pak Dawud beserta Tukiman dan Fatimah berangkat menuju Banyuwangi. Di Banyuwangi kehidupan pak Dawud-pun tak kunjung membaik karena adanya musim paceklik pada saat itu. Akhirnya menikah adalah salah satu alternatif yang diambil oleh pak Dawud untuk mempertahankan hidup keluarganya. Ia menikahi janda beranak 3 yang bernama Nyai indrik. Nyai indri adalah seorang janda berkecukupan (bukan kaya) yang dinikahi oleh pak Dawud guna menyelamatkan keluarganya dari kelaparan. Tetapi sayangnya harapan ini tidak bersambut dengan kenyataan. Dari pernikahan tersebut hanya makanan yang jauh dari layak yang diperoleh oleh pak Dawud beserta kedua anaknya.
Setiap hari pak Dawud dipaksa menggarap sawah dan ladang milik nyai indri, sedangkan Tukiman seringkali mendapatkan siksaan yang mengerikan dari ibu tirinya begitupula Fatimah. Diceritakan bahwa setiap kali Fatimah makan, makananya harus diludahi dulu oleh ibu tirinya yang seringkali berwarna merah (karena nyai indri menginang), selain itu ningsih seringkali mendapat pukulan dan tamparan di wajahnya ketika menangis larena tidak mau makan. Hal ini memaksa Tukiman untuk melindungi," ojo mak wis kene wae" (jangan bu biarkan 'fatimah' di sini saja) sambil mengambil kurungan ayam yang diletakkan di badan fatimah untuk melindungi. Tahun demi tahun berlalu, Tukiman tumbuh menjadi seorang pemuda sedangkan Fatimah tumbuh dengan kepribadian yang aneh (sangat tertutup). Pada usia itu Tukiman bekerja menjadi buruh pada seorang yang cukup kaya yang bernama mbah Shidiq.
Pekerjaan Tukiman yang menjadi buruh pada mbah Shidiq rupanya menarik hati salah satu putri mbah Shidiq yang bernama Djamaiyah. Djamaiyah sendiri adalah putri ke 6 mbah shidiq dari 8 bersaudara. Secara umum, kepribadian pasangan ini sangat berbeda, misalnya Tukiman berkepribadian halus, bekulit kuning dan sangat sabar dan pintar. Sedangkan Djamaiyah berkulit coklat (lebih dari sawo matang), dengan kepribadian yang sangat kasar serta penuh emosi dan kurang pintar (menurut saya). Tetapi Djamaiyah adalah adalah anak dari seorang yang kaya, sakti (katanya) dan memiliki jabatan sebagai mandor pembangunan beberapa jembatan (yg dibangun belanda). Dan akhirnya mereka pun menikah, pernikahan yang menyatukan suku jawa dan suku asli Banyuwangi (Osing). Pernikahan tersebut juga mampu membebaskan ningsih yang selama hidupnya terkurung oleh perilaku ibu tirinya, menjadi seorang gadis yang normal dan menikah dengan orang dari Kota.
Dari pernikahan tersebut lahirlah 4 orang anak ya g bernama 1)Toha, 2) Djaini. 3) Parmin, 4) Djaepah. Djaepah merupakan satu-satunya anak perempuan sebab adik Djaepah (anak yg ke 5) meninggal. Alasan kematianya diungkapkan oleh nenek saya (Djaepah) yakni karena digendong dan diajak berputar-putar oleh Parmin. Sehingga ketika anak tersebut meninggal, Djamaiyah marah besar dan menyiksa Parmin hingga mengikatnya di tiang kandang sapi. Sehingga menyebabkan depresi yang berkelanjutan dan kegilaan pada diri parmin. Setelah beberapa tahun berlalu, Djaepah pun tumbuh menjadi gadis yang cantik (banyak orang bilang, bahkan ketika saya sudah dewasa ini) dan menikah dengan anak orang terpandang pada masa itu yang bernama Djaelani.
Dari kedua pasangan ini, lahirlah 4 orang putri yang bernama Kiptiyah, Istiqomah, khusnul khotimah, dan Musyarofah. Selain ke empat puteri diatas lahirlah satu orang putra bernama Djaenur. Disini musyarofah adalah mama saya.
Rasa putus asa karena kehilangan keluarga dan harta benda dirasakan oleh seluruh korban letusan gunung pada saat itu, ditambah lagi beban pajak yang wajibkan oleh pemerintah Belanda. Hal ini membuat pak Dawud berfikir "tidak ada lagi alasan untuk tetap tinggal di tempat apes (terkutuk) ini". Akhirnya pak Dawud memutuskan untuk pindah tempat dengan mengajak kedua anaknya menjauhi gunung yang dianggapnya sebagai sumber malapetaka. Beberapa saudara pak dawud yang tinggal di daerah Blitar juga banyak yang mengungsi ke daerah lain bahkan ada yang merantau hingga keluar jawa. Dengan berbekal beberapa Kelip (tidak sampai 1 rupiah) perjalanan merantaupun dia lakukan dengan berjalan kaki dari Wlingi menuju stasiun kota lama Malang.
Dalam perjalanan tersebut seringkali di tengah jalan, Fatimah mengeluh dengan kakinya yang melepuh (buyut tidak memberi penjelasan tentang alasanya) sehingga pak Dawud harus menggendongnya, sedangkan Tukiman pada saat itu berumur sekitar 10 atau 11 tahun (Tojo tetap tinggal di Blitar, tanpa alasan yg jelas). Perjalanan yang sesungguhnya di mulai dari Stasiun kota Malang (kota lama). Perantauan pak Dawud dilakukan dengan mengindari daerah yang terkenal dengan kerja rodinya yakni anyer-panarukan, dalam artian pak Dawud tidak menginginkan merantau ke jateng/jabar. Sehingga beliau memilih Banyuwangi sebagai tujuanya. Banyuwangi dipilih karena saat itu dominasi Belanda di Banyuwangi lemah mengingat konsentrasi Belanda adalah Bali.
Dengan naik kereta api (Sepur krucuk) pak Dawud beserta Tukiman dan Fatimah berangkat menuju Banyuwangi. Di Banyuwangi kehidupan pak Dawud-pun tak kunjung membaik karena adanya musim paceklik pada saat itu. Akhirnya menikah adalah salah satu alternatif yang diambil oleh pak Dawud untuk mempertahankan hidup keluarganya. Ia menikahi janda beranak 3 yang bernama Nyai indrik. Nyai indri adalah seorang janda berkecukupan (bukan kaya) yang dinikahi oleh pak Dawud guna menyelamatkan keluarganya dari kelaparan. Tetapi sayangnya harapan ini tidak bersambut dengan kenyataan. Dari pernikahan tersebut hanya makanan yang jauh dari layak yang diperoleh oleh pak Dawud beserta kedua anaknya.
Setiap hari pak Dawud dipaksa menggarap sawah dan ladang milik nyai indri, sedangkan Tukiman seringkali mendapatkan siksaan yang mengerikan dari ibu tirinya begitupula Fatimah. Diceritakan bahwa setiap kali Fatimah makan, makananya harus diludahi dulu oleh ibu tirinya yang seringkali berwarna merah (karena nyai indri menginang), selain itu ningsih seringkali mendapat pukulan dan tamparan di wajahnya ketika menangis larena tidak mau makan. Hal ini memaksa Tukiman untuk melindungi," ojo mak wis kene wae" (jangan bu biarkan 'fatimah' di sini saja) sambil mengambil kurungan ayam yang diletakkan di badan fatimah untuk melindungi. Tahun demi tahun berlalu, Tukiman tumbuh menjadi seorang pemuda sedangkan Fatimah tumbuh dengan kepribadian yang aneh (sangat tertutup). Pada usia itu Tukiman bekerja menjadi buruh pada seorang yang cukup kaya yang bernama mbah Shidiq.
Pekerjaan Tukiman yang menjadi buruh pada mbah Shidiq rupanya menarik hati salah satu putri mbah Shidiq yang bernama Djamaiyah. Djamaiyah sendiri adalah putri ke 6 mbah shidiq dari 8 bersaudara. Secara umum, kepribadian pasangan ini sangat berbeda, misalnya Tukiman berkepribadian halus, bekulit kuning dan sangat sabar dan pintar. Sedangkan Djamaiyah berkulit coklat (lebih dari sawo matang), dengan kepribadian yang sangat kasar serta penuh emosi dan kurang pintar (menurut saya). Tetapi Djamaiyah adalah adalah anak dari seorang yang kaya, sakti (katanya) dan memiliki jabatan sebagai mandor pembangunan beberapa jembatan (yg dibangun belanda). Dan akhirnya mereka pun menikah, pernikahan yang menyatukan suku jawa dan suku asli Banyuwangi (Osing). Pernikahan tersebut juga mampu membebaskan ningsih yang selama hidupnya terkurung oleh perilaku ibu tirinya, menjadi seorang gadis yang normal dan menikah dengan orang dari Kota.
Dari pernikahan tersebut lahirlah 4 orang anak ya g bernama 1)Toha, 2) Djaini. 3) Parmin, 4) Djaepah. Djaepah merupakan satu-satunya anak perempuan sebab adik Djaepah (anak yg ke 5) meninggal. Alasan kematianya diungkapkan oleh nenek saya (Djaepah) yakni karena digendong dan diajak berputar-putar oleh Parmin. Sehingga ketika anak tersebut meninggal, Djamaiyah marah besar dan menyiksa Parmin hingga mengikatnya di tiang kandang sapi. Sehingga menyebabkan depresi yang berkelanjutan dan kegilaan pada diri parmin. Setelah beberapa tahun berlalu, Djaepah pun tumbuh menjadi gadis yang cantik (banyak orang bilang, bahkan ketika saya sudah dewasa ini) dan menikah dengan anak orang terpandang pada masa itu yang bernama Djaelani.
Dari kedua pasangan ini, lahirlah 4 orang putri yang bernama Kiptiyah, Istiqomah, khusnul khotimah, dan Musyarofah. Selain ke empat puteri diatas lahirlah satu orang putra bernama Djaenur. Disini musyarofah adalah mama saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar